23.9.09

Tips Mencegah Malaria

Posted by Abu Azzam On 08.52 No comments


Malaria bisa menyerang semua orang, baik lelaki maupun perempuan pada semua golongan umur dari bayi, anak-anak maupun orang dewasa. Bila terserang penyakit ini, penderita bisa mengalami koma, kegagalan multi organ, bahkan kematian. Padahal, hal itu sebenarnya bisa dicegah dengan cara mudah dan murah.

Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Direktorat Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Rita Kusriastuti, dalam acara peringatan Hari Malaria Sedunia, di Gedung Departemen Kesehatan, Jakarta, Rabu (22/4) menyatakan, sejauh ini ada beberapa cara paling aman untuk terhindar dari malaria.

Pertama, menghindari atau mengurangi gigitan nyamuk dengan cara tidur di dalam kelambu berinsektisida, berada di dalam rumah pada malam hari, mengolesi badan dengan obat anti gigitan nyamuk, memakai obat nyamuk bakar atau menyemprot dengan obat nyamuk. Jangan lupa memasang kawat kasa pada jendela atau ventilasi, ujarnya.

Kedua, membersihkan tempat-tempat hinggap atau istirahat nyamuk dan memberantas sarang nyamuk dengan membersihkan rumput dan semak di tepi saluran, melipat kain-kain yang ber gantungan, mengusahakan keadaan di dalam rumah tidak ada tempat gelap dan lembab dengan memasang genting kaca dan membuka kaca. Cara lain adalah, membersihkan semak-semak di sekitar rumah, mengalirkan genangan air, dan menimbun dengan tanah atau pasir semua genangan air di sekitar rumah.

Cara pencegahan lain adalah, membunuh nyamuk dewasa dengan cara menyemprot rumah-rumah dengan racun serangga atau insektisida, membunuh jentik-jentik nyamuk dengan menebarkan ikan pemakan jentik. "Selain itu, bunuh jentik nyamuk dengan menyemprot obat anti larva atau jentik pada genangan air, serta melestarikan hutan bakau di rawa-rawa sepanjang pantai," kata Rita.

12.9.09

Tertawa Bisa Kurangi Risiko Diabetes

Posted by Abu Azzam On 07.53 No comments


Gelak tawa dapat membantu penderita diabetes meningkatkan kadar kolesterolnya dan menurunkan risiko penyakit pembuluh darah dan jantung, demikian hasil satu studi baru.

Menurut Lee Berk dari Loma Linda University, yang memimpin studi itu, pilihan gaya hidup berdampak mencolok pada kesehatan dan penyakit serta semua ini adalah pilihan antara tindakan pencegahan dan pengobatan.

Para peneliti membagi 20 pasien diabetes berisiko tinggi yang semuanya menderita darah tinggi dan hyperlipidemia (penyakit pembuluh darah dan jantung) ke dalam dua kelompok yang keduanya diberi obat diabetes standard.

Kelompok L diberi waktu 30 menit untuk menikmati humor yang mereka pilih, sementara Kelompok C --kelompok pemantau--- tidak. Proses itu berlangsung selama satu tahun pengobatan.

Sekitar dua bulan proses pengobatan, semua pasien di kelompok tertawa (Kelompok L) memiliki tingkat hormon epinephrine dan norepinephrine --dipandang sebagai penyebab stres-- lebih rendah.

Setelah 12 bulan, kolesterol HDL (kolesterol baik) telah naik 26 persen pada Kelompok L tapi hanya 3 persen di dalam Kelompok C.

Dalam pengukuran lain, protein C-reaktif, penanda radang dan penyakit pembuluh darah serta jantung, turun 66 persen pada kelompok tertawa tapi hanya 26 persen pada kelompok pemantau.

"Dokter terbaik mengerti bahwa ada campur tangan psikologis hakiki yang ditimbulkan oleh emosi positif seperti gelak tawa dengan riang-gembira, optimisme dan harapan," kata Berk.

Kendati demikian, Berk menilai tertawa menjadi obat yang bagus dan sama berharganya dengan obat diabetes, tapi berkeras bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan guna memastikan apa maksud dari semua hasil itu.

-ant/xinhuanet-oana/ahi

5.9.09


Stres dan distres merupakan indikator tingkat kesehatan mental manusia. Mental kita disebut sehat jika kita bisa mengatur dan memanipulasi pengaruh stres tanpa menimbulkan ketidak seimbangan pada diri sendiri. Sebaliknya mental kita akan dianggap sakit, jika kita gagal beradaptasi dengan stres.

Ketidak mampuan menghadapi stres akan berdampak pada berbagi gangguan jiwa dan raga. Salah satunya adalah depresi. Depresi ini memang ada yang disebabkan oleh faktor genetis, namun faktor lingkungan juga sangat berpengaruh. Lynn Rehm, Ph.D., tenaga pengajar psikologi di Unversitas Houston, mengatakan bahwa depresi sedikit banyak juga dipengaruhi oleh hal-hal lain di luar genetis, seperti kondisi keuangan, kesehatan, dan juga faktor-faktor lainnya. Oleh karena itu, untuk meminimalisasi resiko Anda mengalami depresi, ia menyarankan untuk:

1. Mengenali Gejala-Gejala Klinis Depresi

Gejala-gejala Depresi mliputi rasa sedih, kesulitan berkonsentras, kurang energi, gangguan tidur atau insomnia, mengalami gangguan nafsu makan (atau malah telalu banyak makan), rendah diri, merasa tidak berdaya dan tidak punya harapan, serta selalu ingin bunuh diri. Jika Anda mengalami gejala-gejala tersebut, sebaiknya anda langsung memeriksakan diri. Pengobatan dini akan mempercepat proses penyembuhan depresi.

2. Membangun Hubungan Sosial yang Bersifat Sportif

Penelitian terbaru di Universitas Oregon menemukan bahwa wanita depresi yang memiliki dukungan sosial tidak memadai, atau tidak memiliki banyak hubungan sosial yang positif, cenderung tetap mengalami depresi walaupun telah memperoleh pengobatan medis. Karenanya, jika Anda memiliki seseorang atau siapa pun yang bisa mmbuat nyaman saat Anda sedang menghadapi masalah, maka risiko Anda mengalami Depresi cukup rendah.

3. Membangun Pola Pikir yang Selalu Optimis

Depresi, seringkali, berhubungan langsug dengan pola pikir yang selalu pesimis, atau merasa tidak punya harapan. Jika Anda terbiasa melihat segala sesuatu yang terjadi pada diri nda secara pesimis, cobalah untuk menerima kelemahan-kelemahan Anda. Lantas belajarlah untuk lebih mengharga diri sendiri, dan berhentilah menyalahkan diri jika melakukan kekeliruan.

4. Mengkonsumsi Ikan

Penelitian menunjukan bahwa mengkonsumsi banyak lemak esensial, terutama Omega-3 yang terdapat pada ikan Salmon dan Sarden,bisa membantu mengaasi depresi dan gangguan bipolar. Jadi, jangan ragu untuk memulai hobi makan ikan atau mengkonsumsi suplemen yang mengandung Omega-3.

5. Olahraga

Dengan Berolahraga seara teratur, fisik Anda kan lebih sehat. Olahraga juga bisa meningkatkan rasa prcaya diri dan kemampuan Anda dalam memecahkan masalah. Dengan demikian, olahraga daat membantu mengatasi depresi.
Para peneliti di Duke University Medical Center membandingkan efektifitas latihan aerobik, penggunaan antidepresan, dan kombinasi keduanya pada 156 penderita depresi berat. Setelah empat bulan, ketiga grup mengalami perkembangan signifikan. Namun setelah 10 bulan, grup yang terus melakukan latihan aerobik, secara teratur mengalami penurunan intensitas kambuh yang signifikan dibandingkan grup yang hanya mendapatkan antidepresan.